BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Sabtu, 09 Januari 2010

Akankah Ada Kelangkaan BBM Kembali di Tahun 2010 ini?

MEMASUKI Tahun Baru 2010 ini, Majalah TRUST Edisi 09 & 10 Tahun VIII, 28 Desember – 10 Januari 2010 menurunkan Laporan Utama bertajuk “Angan-angan di Tahun Macan”. Salah satu sub laporan utama majalah tersebut mengupas soal minyak bumi dan gas. Dikatakannya selama tahun 2009 lalu, produksi migas jalan di tempat. Lantas di mana kaitan antara produksi migas jalan di tempat dengan kelangkaan BBM? Akankah ada kelangkaan BBM kembali di tahun 2010 ini?

Apabila dihubung-hubungkan bisa jadi ada kaitan antara produksi migas yang jalan di tempat dengan kemungkinan kelangkaan BBM. Namun demikian, persoalan kelangkaan BBM di beberapa wilayah tanah air lebih disebabkan oleh buruknya pendistribusian BBM antar wilayah. Di samping pula akibat kesalahan di tingkat pengambilan kebijaksaan pemerintah. Dalam hal ini menyangkut besaran hari stok BBM.

Menurut anggota BPH Migas DR Ibrahim Hasyiim dalam buku 40 Tahun Begelut Energi: BBM Kapan selesai? di internal Pertamina sendiri selaku operator penyedia dan pemasok BBM dalam negeri terjadi tarik menarik dengan pemerintah. Antara penerapan prinsip perusahaan yang mengedepankan efisiensi, dengan prinsip pemerintah akan ketersediaan dan terdistribusinya BBM di seluruh Negara kesatuan Republik Indonesia. Di mana terkadang tarik menarik kepentingan ini menjadi suatu masalah serius, yang pada gilirannya berdampak pada hayat masyarakat banyak, lantaran kemudian terjadi kelangkaan BBM.

Kelangkaan BBM juga bisa terjadi, karena penggunaan model perhitungan kebutuhan BBM berbeda dengan kondisi di lapangan.

Kembali ke pikiran utama soal “jalan di tempatnya” produksi migas. Menurut laporan utama majalah TRUST dimaksud, salah satu alasan produksi migas Indonesia jalan di tempat, yakni minimnya eksplorasi. Selama ini investasi yang mengucur ke sektor migas lebih banyak ditujukan untuk proses eksploitasi ketimbang eksplorasi. Persoalannya, kegiatan eksplorasi migas membutuhkan investasi yang sangat besar. Pula beresiko besar.

Pengamat perminyakan DR Kurtubi bahkan menuding UU Migas No. 22 Tahun 2001 menjadi hambatan dalam kegiatan eksplorasi migas. Pasalnya, menurut UU itu, sebuah perusahaan baru yang hendak melakukan kegiatan eksplorasi sduah dikenai pajak penghasilan. Padahal sepeti saya singgung tadi, kegiatan eksplorasi mengandung resiko besar. Sebab sudah mengeluarkan investasi sangat tinggi, ternyata kandungan migas yang ditemukan tidak ekonomis.

Apabila soal eksplorasi ini terus menerus stagna, sudah dapat diprediksi cadangan migas yang dieksploitasi pun lambat laun berkurang. Untuk jangka panjang, sudah jelas hal ini akan membawa akibat berantai berupa kelangkaan BBM di dalam negeri.

Berdasarkan hal tersebut, sudah jelas bahwa kegiatan ekplorasi migas tidak boleh berhenti. Harus tetap jalan, dan kalau perlu berlari kencang. Sebagai negeri dengan sumber daya alam melimpah ruah, niscaya cadangan migas yang belum diketemukan masih sangat besar. Hanya dengan suatu kemauan dan kerja keras saja, didukung oleh teknologi canggih kita dapat melakukan kegiatan eksplorasi migas. Dengan berbekal semboyan Kerja Keras Adalah Energi Kita. Syukur-syukur menemukan cadangan migas yang selama ini belum terdeteksi.

2010, BP Migas Bersihkan Sumbatan Eksplorasi

Kepala BPMigas Raden Priyono mengatakan, pada 2010 BPMigas akan fokus menuntaskan semua permasalahan yang menghambat kegiatan esplorasi migas.

“Awal 2010 ini, kami meminta semua perusahaan kontraktor kontrak kerjasama (KKKS) untuk mengajukan rencana kerja eksplorasi serta kemungkinan kendala yang dihadapi. Misalnya terkait apakah terjadi tumpang tindih lahan kehutanan atau tidak,” kata kepala BPMigas Raden Priyono kepada INILAH.COM, Jakarta, Minggu (3/1).

Dia menambahkan, untuk persoalan pemakaian lahan hutan untuk kegiatan eksplorasi migas, Kementerian Kehutanan sudah menargetkan Peraturan Pemerintah (PP) kehutanan akan rampung Februari 2010.

Lanjutnya, dengan adanya PP tersebut akan dimungkinkan kegiatan eksplorasi di daerah hutan.

Sebelumnya, Menteri Kehutanan Zulkifli Hassan mengatakan, pihaknya tengah menyelesaikan PP Kehutanan yang memungkinkan aktifitas eksplorasi di daerah kehutanan.

Pertamina kerja keras

Memperingati HUT Pertamina ke-52, PT Pertamina (Persero) - selaku BUMN yang bertugas mengelola penambangan minyak dan gas bumi di Indonesia - mencanangkan program keterbukaan sebagai langkah awal Pertamina dalam upaya mereka menerapkan Good Corporate Governance (GCG).

Dengan era demokrasi sekarang ini, keterbukaan kepada konsumen/publik adalah sebuah plus value tersendiri dalam upaya meningkatkan dan mengembangkan pelayanan produk dan jasa mereka.

Salah satu langkah paling besar dalam tubuh Pertamina adalah dihapuskannya monopoli pendirian SPBU di Indonesia pada tahun 2001 silam. Dengan penghapusan ini, bukan hanya PT Pertamina yang berhak mendirikan dan memperluas link SPBU di negara kita. Sebuah awal menyambut era pasar bebas.

Produk-produk Pertamina

Siapa sih yang gak tahu produk Pertamina? mulai dari jasa pelayanan SPBU yang banyak berdiri dan tersebar di seluruh pelosok tanah air, hingga bermacam produk terkait pemanfaatan minyak dan gas bumi. Berikut daftar produk-produk Pertamina:

1. Bahan Bakar Minyak : BioPertamax, Pertamax, Pertamax Plus,BioPremium, Premium, Solar, Kerosine, Pertamina DEX
2. Non-minyak : Minarex, HVI 90, HVI 160, Lube Base, Green Coke, Asphalt
3. Gas : Elpiji, Bahan Bakar Gas (BBG), Musicool
4. Pelumas :
- Fastron adalah minyak lumas mesin kendaraan dengan bahan dasar semi synthetic
- Prima XP SAE 20W - 50 adalah pelumas produksi Pertamina untuk mesin bensin
- Mesran Super SAE 20W-50 adalah pelumas mesin bensin
- Mesrania 2T Super-X adalah pelumas mesin bensin dua langkah yang berpendingin air seperti mesin tempel atau speed boat. Pelumas ini diproduksi oleh Pertamina. Juga cocok untuk penggunaan pada motor tempel yang lebih kecil dan mesin ketam, mesin gergaji, bajaj dan bemo.
- 2T Enviro merupakan pelumas kendaraan 2 Tak dengan bahan bakar bensin juga pelumas semi sintetis yang dibuat dari bahan dasar pelumas mineral ditambah bahan dasar pelumas sintetis Poly Isobutylene. Direkomendasikan untuk digunakan pada mesin kendaraan 2 Tak berbahan bakar bensin dengan pendingin udara. Kendaraan-kendaran 2 Tak buatan Jepang seperti Kawasaki, Yamaha, Suzuki, Honda dan Vespa, dapat juga digunakan untuk mesin gergaji (chain saw) dan mesin potong rumput.
- Enduro 4T
- Meditran
- Rored

5. Petrokimia : Pure Teraphithalic Acid (PTA), Paraxyline, Benzene, Propyline, Sulfur.

Pengembangan Usaha

Dalam hal pengembangan usaha, Pertamina telah mulai mengembangkan usahanya baik di dalam dan luar negeri melalui aliansi strategis dengan mitra. Pertamina juga memiliki usaha yang prospektif di bidang jasa pemboran minyak dan gas melalui Pertamina Drilling Service (PDS) yang memiliki 26 unit rig pemboran serta anak perusahaan PT Usayana yang memiliki 7 rig pemboran. Dalam kegiatan transmisi gas, Pertamina memiliki jaringan pipa gas dengan panjang total 3800 km dan 64 stasiun kompresor.

Harapan dan Saran

Seiring bergulirnya Program Transformasi, keterbukaan dalam tubuh Pertamina merupakan salah satu nilai jual yang bisa menjadi barometer awal BUMN tanah air.

Harapan dan saran yang mungkin dapat ditingkatkan dalam tubuh Pertamina adalah:

- Pemanfaatan SDE (Sumber Daya Energi) yang baik dengan tidak melonggarkan nilai-nilai kelestarian bumi dan lingkungan;

- Pemanfaatan SDM (Sumber Daya Manusia) yang merata dan berkesinambungan;

- Meningkatkan nilai jual produk-produknya dengan tidak mengenyampingkan kualitas dan kuantitas produk tersebut;

- Peningkatan dan pemerataan link SPBU Pertamina di seluruh tanah air, dari Sabang sampai Merauke;

- Meningkatkan fasilitas dan kenyaman SPBU (misalnya penambahan fasilitas dan ketersediaan cafe sampai jaringan wiFi, hehehe...);

- Peningkatan mutu dan kualitas selaku BUMN dalam negeri melalui kerjasama internasional dengan tidak melupakan nilai-nilai dasar budaya bangsa Indonesia;

Kerja Keras Adalah Energi Kita

Melalui tagline: "Kerja Keras Adalah Energi Kita", selayaknya dapat dijadikan awal kebangkitan Pertamina sebagai salah satu BUMN yang paling care, terbuka dan tanggap terhadap konsumen masyarakat Indonesia.

Selayaknya-lah pula langkah dan upaya program ini harus kita dukung penuh. Lebih-lebih dapat menjadi contoh bagi BUMN-BUMN lain di Indonesia.

Kami dukung terus Pertamina: Kerja Keras Adalah Energi Kita... :)

BPH Migas Nyatakan Indonesia Tak Lagi Kaya Minyak

Gorontalo (ANTARA News) - Meskipun masih menjadi anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Indonesia tak lagi menjadi negara yang kaya akan minyak, seperti halnya Irak, Kuwait, dan Saudi Arabia, demikian pernyataan Kepala Badan Pengatur Hilir (BPH) Minyak dan Gas Bumi (Migas), Tubagus Haryono.

Di Gorontalo, Kamis, ia mengemukakan bahwa cadangan minyak Indonesia saat ini hanya sebesar 0,8 persen dari cadangan dunia.

"Jadi, paradigma ini harus diubah karena Indonesia bukan hanya pengeskpor tapi juga pengimpor minyak," kata Tubagus.

Menurut dia, saat ini produksi minyak mentah di Indonesia kurang lebih 1.000 juta barel per hari (MBCD), sementara jumlah yang disekpor sekitar 300 juta BBL per tahun dan impor mencapai 411 juta barel (BBL) per tahun.

Ia mencontohkan, pada tahun 2006 kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia kurang lebih 68 juta Kiloliter (Kl) per tahun, sedangkan jumlah BBM yang diimpor sekitar 20,8 juta Kl.

Oleh karena itu, ia mengungkapkan, produksi minyak mentah sebagai bahan baku BBM terus menurun dan suatu saat secara alamiah akan habis, karena migas merupakan energi yang tak terbarukan.

Di lain sisi, kata dia, konsumsi BBM terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, transportasi, listrik dan industri, sehingga pemerintah terpaksa harus mengimpor minyak mentah dan BBM dalam hitungan dolar Amerika Serikat (AS).

"Masalah BBM dalam negeri juga terkait dengan harga yang masih disubsidi, daya beli masyarakat tertentu masih lemah, kemampuan negara terbatas serta disparitas harga tinggi," ujarnya.

Ia menambahkan, solusi untuk menghadapi masalah fundamental tersebut diantaranya meningkatkan produksi minyak mentah dengan melakukan eksplorasi dan ekploitasi lapangan, dengan menggunakan teknologi pengurasan reservoir.

Selain itu, kata dia, konsumsi BBM yang terus meningkat dapat diatasi dengan kebijakan pemanfaatan energi lain seperti gas, geothermal, batubara, matahari, air, angin dan nuklir.

Jumat, 08 Januari 2010

Empat Formula Penjualan Gas Bumi Indonesia

Jakarta - Pemerintah menerapkan empat formula penjualan gas bumi domestik, yaitu flat, eskalasi, formula terkait dengan harga minyak, serta formula terkait dengan produk dan harga minyak.

Formulasi penjualan harga gas dengan sistem flat (fixed rate) digunakan untuk pembeli dari pembangkit listrik dan industri sebelum 2004 pada saat harga BBM domestik rendah dan untuk meningkatkan pemanfaatan gas dalam negeri. Pada waktu itu penggunaan gas terbatas pada gas flare dan jual beli gas jangka pendek.

Formula penjualan gas eskalasi adalah penjualan gas dengan harga mengikuti peningkatan dan pertumbuhan perekonomian dan peningkatan harga minyak dunia. Formula ini digunakan untuk pembeli dari kelompok pembangkit listrik dan industri.

Formula yang terkait dengan harga minyak umumnya digunakan pembeli pada kelompok bisnis hulu dan hilir minyak serta ekspor.

Sedang penjualan gas dengan formula terkait dengan harga produk dan harga minyak digunakan pembeli industri petrokimia sebagai bahan baku (amonia, pupuk dan methanol).

PRODUK PENGOLAHAN MINYAK BUMI dan MANFAATNYA

Keberadaan minyak bumi dan berbagai macam produk olahannya memiliki manfaat yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari, sebagai contoh penggunaan minyak tanah, gas, dan bensin. Tanpa ketiga produk hasil olahan minyak bumi tersebut mungkin kegiatan pendidikan, perekonomian, pertanian, dan aspek-aspek lainnya tidak akan dapat berjalan lancar. Dibawah ini adalah beberapa produk hasil olahan minyak bumi beserta pemanfaatannya:
1. Bahan bakar gas

2. Naptha atau Petroleum eter, biasa digunakan sebagai pelarut dalam industri.

3. Gasolin (bensin), biasa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.

4. Kerosin (minyak tanah), biasa digunakan sebagai bahan bakar untuk keperluan rumah tangga. Selain itu kerosin juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan bensin melalui proses cracking.

5. Minyak solar atau minyak diesel, biasa digunakan sebagai bahan bakar untuk mesin diesel pada kendaraan bermotor seperti bus, truk, kereta api dan traktor. Selain itu, minyak solar juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan bensin melalui proses cracking.

6. Minyak pelumas, biasa digunakan untuk lubrikasi mesin-mesin.

7. Residu minyak bumi

Bensin Tanpa Timbal

Semua Produk gasoline yang dihasilkan Pertamina sudah tidak ditambahkan timbal (TEL) lagi, baik itu produk Premium 88 , Pertamax 92 dan 95. Produksi tsb telah dilakukan sejak mid 2006 setelah Ditjen Migas mengeluarkan spec baru bagi produk Bensin dan Solar. Meskipun dalam SK Dirjen Migas tsb masih memungkinkan adanya kandungan Timbal (Lead) sebanyak 0.013 g/liter, tapi Pertamina sudah membuat kebijakan untuk tidak lagi menggunakan Timbal sebagai octane booster, sehingga semua produk gasoline Pertamina sudah bebas dari Timbal.

Yang dilakukan Pertamina dalam rangka TEL phase out adalah menaikkan kapasitas produksi dan severity unit2 yang menghasilkan HOMC.

Kalo Pertamax 92/95, bahan dasarnya adalah HOMC (high octane mogas component) yaitu fraksi naphta (C6-C10) yang banyak mengandung komponen aromatik yang merupakan produk dari proses catalytic reforming menggunakan katalis yang mengandung metal Platina. Komponen aromatik mempunyai angka octane yang tinggi. Sehingga tanpa adanya penambahan TEL-pun, Octane Number produk tsb sudah tinggi (biasanya > 100).

Utk produk HOMC yang beredar dipasaran (luar negeri), kadang ditambahkan MTBE atau Alkylate sebagai octane booster, persentasenya sekitar 10 - 15%vol.